
Grapadinews.co.id – Teknologi memberikan kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Mulai dari bepergian, memesan makanan, membersihkan rumah, mengirim barang, belanja, sampai service kendaraan jadi lebih gampang hanya dengan satu genggaman tangan.
Bisnis digital menjadi lahan yang menjanjikan dewasa ini. Tidak ayal bila para pengusaha berbondong-bondong menanamkan modal atau membangun usaha berbasis teknologi. Salah satu bukti keberhasilan bisnis di bidang ini, yaitu Go-Jek dan Grab.
Transportasi online dengan memanfaatkan teknologi ini banyak memberikan kemudahan kepada pelanggan. Hanya dengan membuat akun, maka Anda pun bisa menikmati segala fasilitas yang disediakan.
Terlebih kini tidak perlu ribet mencari angkutan umum karena melalui jasa online. Anda hanya perlu memasukkan lokasi saat ini beserta tujuan, dan lima menit kemudian driver datang siap mengantar. Baik Go-Jek maupun Grab sama-sama memberikan pelayanan terbaik kepada customer. Akan tetapi dua perusahaan tersebut ternyata memiliki perbedaan dalam strategi bisnisnya. Simak ulasannya berikut ini!
Sekilas tentang Go-Jek dan Grab

Di awal terbentuk, Go-Jek merupakan layanan call center untuk membantu calon pelanggan mendapatkan tukang ojek. Melalui pesan singkat dan telepon secara manual, perusahaan juga bekerja sama dengan ojek pangkalan. Namun hal tersebut rupanya tidak membuatnya mengalami perkembangan. Maka ketika Grab dan Uber masuk ke Indonesia pada 2014, barulah perusahaan besutan Nadiem Makarim itu memperbaiki sistem hingga menarik para investor.
Sebagai startup buatan anak bangsa, Go-Jek mendapatkan apresiasi luar biasa dari masyarakat Indonesia. Mereka juga mendapatkan gelontoran dana dari salah satu raksasa asal Tiongkok Tencent sebesar 16,8 miliar rupiah. Hingga kini, banyak penghargaan yang diperoleh, seperti pemenang Fintech Award oleh Bank Indonesia, serta Asian of The Year Award dari The Strait Times.
Sementara Grab berawal dari percakapan antar sekelompok teman pada tahun 2012. Mereka mengeluh akan sulitnya mencari taksi. Namun justru dari sanalah muncul ide untuk membuat layanan transportasi online dengan nama MyTeksi. Tidak butuh waktu lama, usaha tersebut bertransformasi menjadi lebih besar.
Hingga saat ini Grab hadir di 8 negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Meski bukan buatan anak bangsa, namun perusahaan tersebut sukses melebarkan sayap dengan menambahkan fitur.
Perekrutan driver

Sukses dikenal masyarakat luas, pada Januari 2015 Go-Jek merekrut 10.000 pengemudi dan masih memiliki target di tahun berikutnya. Selain itu, ada pula beberapa orang yang sengaja melamar untuk menjadi driver.
Memperbanyak jumlah pengemudi merupakan target Go-Jek untuk memperluas pasar hingga ke pelosok. Berjalan secara bersamaan, perusahaan juga meningkatkan kualitas layanan dengan memperhatikan keselamatan. Untuk mewujudkannya, diputuskan untuk bekerja sama dengan Rifat Drive Labs (RDL). Di sana para pengemudi mendapatkan pelatihan keselamatan. RDL juga telah menyiapkan asuransi bagi para driver dan penumpangnya.
Grab merupakan salah satu perusahaan transportasi online terbesar di Asia Tenggara saat ini. Tercatat sebanyak 2 miliar driver yang tersebar di delapan negara. Di samping itu juga disertai oleh 100 unduhan dari berbagai wilayah jaringannya.
Tidak mau kalah dengan Go-Jek, Grab juga membuka kerja sama dengan siapapun. Open strategy ini membawanya pada posisi unggul. Selain itu, juga bisa membantu perusahaan rintisan dan bisnis lain untuk tumbuh dan berkembang. Salah satu contohnya yakni dengan merangkul Kudo untuk memperluas pasar.
Promo untuk konsumen

Program promo merupakan cara efektif untuk menarik minat calon konsumen. Ini merupakan cara untuk memperkenalkan layanan lebih luas lagi. Konsumen jadi lebih untung karena hanya dengan membayar 10 ribu bisa di antar ke tujuan manapun, akan tetapi batas jarak ditentukan.
Ada pula promo potongan harga hingga 20 ribu rupiah untuk memesan makanan di restoran manapun. Ditmbah pula voucher diskon di kafe atau tempat makan tertentu, sehingga pelanggan bisa mendapatkan harga lebih murah dari biasanya.
Promo adalah salah satu bagian dari strategi marketing. Sama halnya dengan Go-Jek, Grab sering bagi-bagi promo untuk para konsumen. Di bulan Januari 2019 ini, pengguna GrabBike, GrabFood, Grab Express bisa mendapatkan voucher diskon.
Nah, dalam rangka 5 tahun bersama Grab, perusahaan memberikan Extra 50% saat isi GrabPay Credits dan membagikan 5 kali perjalanan gratis dengan GrabBike dan GrabCar khusus pengguna GrabPay. Promo ini sukses menyita perhatian pelanggan.
Model manajemen

Hal yang tidak kalah penting dalam sebuah startup culture adalah mengadaptasikan produk serta jasa solid kepada demand. Maka dalam praktik bisnisnya, Go-Jek menetapkan tiga strategi, yaitu inovatif, dinamis dan memaksimalkan peluang di era digital.
Nadiem Makarim, selaku founder memiliki sudut pandang berbeda tentang bagaimana mengembangkan usaha. Ia percaya bahwa setiap tim leader punya cara masing-masing dalam memanajemen, asalkan bisa mencapai target. Maka dengan pendekatan leadership berbasis Freedom and Responsibility bisa memunculkan ide-ide baru.
Kombinasi mobilisasi kapasitas dan resource dari stakeholders dan gaya organisasi yang kolaboratif serta eksklusif menjadikan ekosistem Go-Jek lebih dinamis dan siap menghadapi persaingan ketat.
Hampir sama dengan Go-Jek, Grab juga menaruh kepercayaan kepada mitranya. Tersebar di beberapa negara di Asia Tenggara, perusahaan unicorn ini memberikan kepercayaan baik pada pengemudi maupun karyawan di setiap cabang.
Mereka yakin bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda, akan tetapi berdasarkan satu tujuan yakni memajukan perusahaan. Didukung dengan teknologi yang di-update setiap waktu serta canggih, pusat tetap bisa mengontrol setiap cabang.
Fitur dan kerja sama

Sukses dengan transportasi online, Go-Jek lantas menambahkan fitur-fitur baru di tengah persaingan ketat. Tidak sekadar meawarkan jasa ride-sharing app, beberapa fasilitas lain yang menarik dan memudahkan masyarakat seperti Go-Car, Go-Food, Go-Mart, Go-Box, Go-Glam, Go-Clean, Go-Massage, Go-Tix dan Go-Med.
Dengan adanya fitur tersebut, maka pada tahun 2016 Go-Jek mengalami peningkatan jumlah driver, yakni 250.000 roda dua dan empat, 3000 penyedia jasa dan 35.000 merchant Go-Food. Mengelola bisnis dengan sistem ini, mereka menciptakan suatu budaya timbal balik yang saling menguntungkan.
Blue bird, salah satu kompetitor Gojek yang kuat akhirnya bergabung dan menjadi partner. Perusahaan-perusahaan logistik juga turut ikut join, sehingga mereka bisa memperbaiki service. Cara ini merupakan win win solution yang menciptakan ekosistem sehat.
Lain dengan Go-Jek, Grab juga tidak kalah dalam berinovasi. Dengan mengusung Everyday Superapp, perusahaan asal Negeri Jiran tersebut memudahkan kegiatan masyarakat hanya dengan satu aplikasi.
Menurut penuturan Jerald Singh selaku Head of Product, bila selama ini konsumen mengenal Grab sebatas transportasi berbasis online. Namun pihaknya akan mulai memperkenalkan bahwa aplikasi ini juga bisa membantu kegiatan sehari-hari. Dengan GrabPlatfrom, pelanggan bisa membaca, bermain game, memesan makanan, dan masih banyak lagi lainnya.
Di samping itu untuk keamanan pengemudi dan penumpangnya, Grab menambahkan tombol SOS. Cara penggunaannya yakni hanya dengan sentuh dua kali, maka lokasi terakhir penumpang otomatis akan tersebar ke keluarga dan teman. Di samping itu, ada pula pilihan Know Your Driver-Partners (menyerahkan KTP, SIM, STNK dan SKCK) sebagai syarat menjadi pengemudi.
Strategi penetapan harga

Salah satu strategi marketing yang diterapkan oleh Go-Jek adalah dengan menentukan tarif. Aspek ini sama pentingnya dari memikirkan ekspansi selanjutnya karena dari sana konsumen bisa menilai apakah layanan jasa ini bagus atau tidak.
Penentuan tarif harga juga bisa menjadi tolok ukur atau membangun citra. Soal harga, perusahaan memiliki standard yang cukup murah sehingga membuat pengguna ojek biasa beralih ke online.
Sementara pada Grab, untuk tarif ada dua elemen yang perlu diperhatikan, yaitu penumpang dan mitra pengemudi. Keduanya adalah supply dan demand. Perusahaan memberikan harga terbaik kepada penumpang sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas.
Baik Go-Jek dan Grab sama-sama berpeluang besar untuk maju di masa yang akan datang. Meski kedua menjalankan strategi bisnis yang berbeda, namun pada dasarnya teknologi dan manajemen yang baik menjadikannya terus berinovasi hingga ke masa yang akan datang. Agar Manajemenmu terukur dan bagus jangan lupa menyusun Jasa Pembuatan Studi Kelayakan dan Jasa Bisnis Plannya ya…