Tenaga Kerja Gig, Gambaran Kondisi Ekonomi di Era Modern


0
Spread the love
Sumber: thestacker.com

Grapadinews.co.id – Seiring dengan berjalannya waktu berkembang menjadi lebih modern, jenis-jenis pekerjaan baru mulai lahir. Kini masyarakat tidak hanya berpatok pada satu pekerjaan, misalnya saja kantor, instansi pemerintahan atau apapun yang menuntut mereka untuk berdiam diri di depan komputer selama 8 hingga 9 jam per hari.

Apalagi kini teknologi sudah semakin mengekspansi, maka beragam karir semakin terbuka lebar utamanya bagi para generasi milenial. Pernahkah Anda mendengar istilah gig economy? Ialah dipopulerkan pada puncak krisis keuangan pada tahun 2000-an yakni 2008-2009. Tenaga kerja yang tadinya menggantungkan hidupnya pada satu jenis pekerjaan mulai berkembang dan mencari sesuatu yang baru untuk meningkatkan pendapatan.

Konsep bekerja jangka pendek ini sebenarnya sudah sejak lama ada. Gig economy kini sangat digandrungi. Bahkan ada pekerja kontraktor penuh waktu namun menyambi sebagai driver Uber atau Gojek setiap akhir pekan.

Pada dasarnya, dahulu istilah tersebut mengacu pada pengusaha bisnis kecil dan pekerjaan lepas seperti, musisi, fotografer, penulis, hingga supir. Nah, istilah ‘gig’ sendiri mengacu pada pertunjukan industri musik jazz pada tahun 1915. Kemudian bagaimana jenis pekerjaan ini menjadi favorit sebagian besar masyarakat modern?

Mengurangi pengangguran, perekonomian meningkat

Sumber: Monster.com

Gig Economy menjadi sesuatu yang membuat penasaran banyak orang saat krisis ekonomi di masa itu. Populasi pengangguran yang semakin meningkat dan pekerja penuh waktu yang merasa pendapatannya menurun serta tidak seberapa kemudian memutuskan melakoni pekerjaan yang tidak terikat waktu.

Profesi ini sifatnya fleksibel. Mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetap bisa melakoninya di waktu luang untuk menambah penghasilan. Bahkan ada pula yang memiliki banyak pekerjaan sampingan seperti ini demi memperbaiki kondisi keuangan.

Perkembangan Gig

Sumber: techcrunch.com

Satu dekade setelah Gig Economy dipopulerkan, makin banyak orang yang menggandrungi jenis pekerjaan ini. Menurut CEO Intuit, Brad Smith, Gig Economy di negara seperti Amerika Serikat telah mengalami pertumbuhan sebanyak 34%. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat sebesar 43% pada tahun 2020. Lebih konkretnya, Harvard Business Review melaporkan bila 150 juta pekerja lepas di Amerika Utara dan Eropa Barat adalah karyawan tetap perusahaan kontraktor.

Sosialiasi tentang gig jobs ini semakin gencar dilakukan seiring dengan bertumbuhnya teknologi. Perusahaan berbasis digital menawarkan pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan. Di samping itu juga penawaran bergabung dengan komunitas untuk sekadar sharing cerita, pengalaman dan membahas gerakan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Selain yang populer seperti driver dan pengantar makanan, gig juga merambah dunia kerja yang begitu serius, yakni konsultan manajemen atau peneliti. Menurut laporan, perusahaan yang paling banyak memiliki tenaga kerja gig adalah yang berbasis teknologi, seperti Uber, AirBnB, Grab, Gojek, dan masih banyak lagi lainnya.

Berbeda aturan dengan bekerja penuh waktu

Sumber: www.indiatoday.in

Beberapa pekerja penuh waktu mengeluhkan waktu yang cukup lama yakni dari pukul 8 atau 9 hingga 5 sore. Belum pula lembur sampai larut. Itupun terkadang mereka tidak mendapatkan upah tambahan karena telah bekerja melebihi batas waktu. Bahkan ada pula yang merasakan pemotongan gaji dan lain sebagainya.

Kondisi demikian akhirnya membuat mereka mencari pekerjaan tambahan lain yang fleksibel untuk menambah penghasilan. Lucunya, tenaga kerja gig tidak memiliki bos manusia. Mereka bekerja dengan mengikuti arahan aplikasi, mulai dari mengantar pesanan, mengendarai, dan masih banyak lagi lainnya. Kompleksitas itu dipicu oleh sesuatu yang disebut dengan ekonomi tertutup.

Menguntungkan untuk perusahaan digital

Sumber: www.yesmagazine.org

Banyak yang telah terjadi di era modern ini. Generasi milenial utamanya mengubah diri mereka menjadi orang-orang yang kreatif juga cekatan. Lonjakan ekonomi juga ditunjukkan oleh mereka yang tadinya seorang berpenghasilan tinggi kemudian memutuskan ingin merasakan gig jobs. Kondisi ini tentu saja juga menguntungkan bagi perusahaan berbasis teknologi.

Mereka yang menggunakan jasa tenaga kerja gig adalah yang sibuk bekerja penuh waktu. Ironis dan lucunya lagi, terkadang pelanggan mereka adalah teman sesama pekerja gig. Situasi tersebut mengindikasikan bahwa ekonomi yang tertutup akan tumbuh terus sampai beberapa tahun ke depan.

Menurut Louis Hyman, seorang profesor di Sekolah Hubungan Industri dan Perburuhan di Universitas Cornell mengatakan bahwa teknologi biasanya tidak mendorong perubahan sosial. Sebaliknya, perubahan sosial justru didorong oleh keputusan yang dibuat dari bagaimana kita mengatur dunia. Akan tetapi pada kenyataannya teknologi mempercepat dan mengkonsolidasikan perubaha-perubahan yang terjadi kini.

Mungkin jenis pekerjaan ini untuk sementara menguntungkan. Namun bisnis tidak selamanya berjalan sesuai rencana. Pendapatan dari pekerjaan lepas terkadang justru tidak bisa mengimbangi gaya hidup. Lantas apa yang dilakukan dengan situasi seperti ini?

Satu-satunya jalan adalah dengan meningkatkan model bisnis berbasis teknologi. Seperti yang dilihat bila perubahan besar dalam ekonomi global ada kalanya membawa ketidak pastian dan rasa tidak aman. Maka dari itu, sudah saatnya untuk mendoorng inovasi serta kemandirian dalam membangun usaha.

Para tenaga kerja gig telah mengumpulkan usaha yang luar biasa, semuanya bisa dilihat dari kemajuan perusahaan-perusahaan berbasis digital kini. Mereka juga turut membangun perekonomian suatu negara. Maka tidak ada salahnya untuk membangun simbiosis mutualisme di antara kedua belah pihak.

 

 


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
Indahhikma

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals