Teknologi Digital Membantu Percepatan Ekonomi Kreatif


0
Spread the love
Sumber: bogor.net

Grapadinews.co.id – Indonesia berpotensi dalam meningkatkan industri kreatif. Keberagaman baik budaya, adat istiadat hingga kebiasaan bisa menjadi ide untuk menciptakan sesuatu yang unik dan berdaya jual tinggi. Apalagi sekarang juga telah didukung oleh teknologi yang bisa meningkatkan kreativitas anak bangsa.

Pemerintah sedang gencar mengontrol pendapatan masing-masing bidang guna dilihat apakah semua program telah berjalan efektif. Lantas bagaimana dengan pengaruhnya terhadap perekonomian negara. Pun demikian dengan Bekraf yang dituntut untuk bisa meningkatkan pendapatan demi kejauan bersama.

Pada tahun 2019 ini dilaporkan bila ekonomi kreatif terus tumbuh dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB). Jumlah perolehan ternyata tidak main-main yakni lebih dari RP. 1.200 triliun. Lalu bagaimana industri ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan berapa saja keuntungan dari tahun ke tahun?

Rincian perolehan Bekraf

Sumber: ayobandung.com

Meski terbilang samar, namun industri kreatif Indonesia mengalami peningkatan pesat. Berbeda dengan sektor lainnya, bidang ini lebih melibatkan gagsan dari masyarakat. Pada tahun 2016 tercatat Bekraf mengantongi pendapatan Rp. 922,59 triliun rupiah. Angka tersebut naik 7,44 persen terhadap total PDB Nasional.

Kemudian pada 2017, nilai PDB mencapai Rp. 1.009 triliun, 2018 dengan Rp. 1.105 triliun dan 2019 Rp 1.211 triliun. Padahal sebelumnya tahun lalu pendapatan diprediksi Rp. 1.000 triliun. Akan tetapi hasilnya justru melebihi ekspektasi.

Rincian sektor

Sumber: kinciakincia.com

Ada banyak sektor yang turut mendukung pertumbuhan Bekraf. Namun Triawan Munaf selaku Kepala Badan Ekonomi Keratif mengatakan bahwa subsektor fashion, kriya dan kuliner paling menguasai dengan perolehan sekitar 97% dari total usaha yang mencapai 8,2 juta unit.

Seiring dengan gencarnya pemerintah menumbuhkan ekspor, tiga subsektor di atas menjadi andalan negara untuk dipasarkan lebih luas lagi. Menurut laporan, pada tahun 2016 lalu pendapatan dari ketiganya mencapai USD19,98 miliar. Lalu bagaimana dengan subsesktor lainnya? Meskipun tidak nilainya tidak melebihi, namun games, musik serta film juga mengalami peningkatan.

Nilai dari Bekraf diharapkan meningkat terus

Sumber: kalimantan.bisnis.com

Nilai PDB yang terus tumbuh ternyata disebabkan oleh jumlah unit usaha. Pada kisaran waktu 2015 hingga 2019, jumlah perusahaan di bidang kreatif tumbuh sebesar 2,5%. Perolehan tersebut juga mempengaruhi nilai yang didapat oleh setiap perusahaan. Rata-rata mendapatkan Rp160 juta pada 2015 dan naik menjadi Rp220 pada 2019.

Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fadjar Hutomo menjelaskan bila di tahun 2016 sudah ada 8,2 juta unit. Sementara nilai tambah per perusahaan bisa mencapai Rp112 juta. Jumlah tersebut diperkirakan terus naik seiring dengan berkembangnya dunia teknologi digital.

Didukung oleh teknologi digital

Sumber: lifestyle.kompas.com

Tidak hanya bermanfaat untuk kehidupan masyarakt kini, teknologi digital juga membuka peluang bagi kegiatan badan ekonomi kreatif. Kenaikan signifikan dari tahun ke tahun disebabkan oleh tumbuhnya bidang tersebut. Salah satu kolaborasi yang dianggap paling potensial dan memiliki dampak sosial besar adalah startup atau perusahaan rintisan.

Startup juga mencakupĀ  subsektor yang ada di ekraf, mulai dari fashion, kuliner, hingga kriya. Akan tetapi, Fajar menambahkan bila subsektor tersebut diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhannya dengan memperhatikan konten serta konsep yang bisa menarik perhatian.

Membangun ekosistem solid

Sumber: www.cnnindonesia.com

Setiap usaha tentu akan dihadapkan pada risiko yang dihadapi. Tidak tahu kapan datangnya, namun alangkah lebih baik bila mencegah lebih baik. Untuk itu Bekraf terus membangun ekosistem yang solid guna sebagai strategi menjalin hubungan baik dengan seluruh stakeholders.

Risiko kegagalan berkaitan dengan masuknya arus permodalan. Maka startup digital harus menjalin silaturahmi dengan coworking space, kemudian inkubator meminta saran. Meski angka kegagalan startup di Indonesia sekitar 10% namun jumlah tersebut jika bisa harus ditekan atau sebisa mungkin dikurangi. Hal ini juga berlaku dalam bidang kuliner dan film.

Untuk Bekraf, pemerintah tidak menyisihkan dana banyak seperti bidang lainnya. Maka dengan keterbatasan itu, alangkah lebih baik bila menggandeng pihak swasta dalam pelaksanaan inkubator serta berinvestasi.

Modal untuk startup

Sumber: www.viva.co.id

Dalam rangka membangun ekosistem startup digital yang kuat, Bekraf bahkan telah meluncurkan secara perdana GoStartup. Ke depannya, mereka juga akan menampung startup digital mulai level ide, penyaluran ke inkubator ide, hingga layak diimplemantasikan dan diluncurkan sebagai usaha.

Di samping mengelola perusahaan rintisan, Bekraf juga menghimbau kepada masing-masing pemerintah daerah utuk mengeksplorasi keunikan masing-masing. Hal tersebut bertujuan agar terjadi keberagaman dan menghindari titik jenuh, sehingga aplikasi digital tidak hanya berpusat pada kuliner atau fashion saja.

Pada tahun ini, perseroan memiliki target menyuntikkan investasi pada 8 hingga 9 startup. Mereka akan mencari yang memang masih baru dirintas serta memiliki risiko tinggi. Elsye Yolanda menjelaskan bila mereka siap membantu untuk menghubungkan kepada investor global demi percepatan bisnis. Kemudian startup terus dikembangkan bersama sampai ke publik dan diakuisisi oleh global.

Meskipun teknologi digital membantu dengan sangat cepat pertumbuhan industri kreatif. Namun tidak ada alasan bagi non digital untuk tidak berkembang. Semua sub sektor memiliki peluang yang sama. Apalagi jika diperkuat dengan kekayaan budaya, maka daya tarik semakin besar.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
Indahhikma

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals