Sempat Dianggap Sinis dan Alami Penolakan, Howard Schultz Gigih Kembangkan Starbucks

Sumber: says.com

Grapadinews.co.id – Kedai kopi Starbucks menjadi tempat baru bagi orang dewasa hingga anak muda untuk menghabiskan waktu. Mengobrol dan meeting sembari menikmati seduhan kopi favorit merupakan hal paling menyenangkan. Terlebih kafe juga dilengkapi dengan jaringan Wi-Fi gratis dan alunan musik yang pas.

Maka hadirnya Starbucks di seantero dunia melahirkan gaya hidup masa kini. Perusahaan yang dibangun sejak 1971 ini awalnya milik Jerry Baldwin dan Gordon Bowker. Didirikan di Seattle, kemudian pada 1987 berpindah tangan kepada Howard Schultz yang kepincut dengan konsepnya.

Namun sebelum menjadi setenar seperti sekarang, kedai kopi raksasa itu banyak mengalami hal tidak menyenangkan yang mengancam eksistensi perusahaan. Lantas bagaimana kisah sukses Starbucks dalam menghadapi lika-liku bisnis?

Starbucks, pengecer biji kopi

Sumber: stevetobak.com

Kedai Starbucks hampir ditemukan di setiap negara bahkan kota. Ialah lambang budaya ngopi modern. Pelanggan dibuat nyaman dengan tempat yang cozy dan keramah tamahan dari para pelayan. Jauh sebelum ini terjadi, Strabucks hanyalah sebuah toko kecil pengecer biji kopi sangrai.

Jerry Baldwin dan Gordon Bowker merupakan orang di balik awal terbentuknya perusahaan. Mereka tertarik dengan pengolahan dan pemilihan kopi berkualitas. Semangatnya yang sangat tinggi kemudian membawanya pada bisnis kecil-kecilan tersebut.

Maka suatu hari, Howard Schultz yang saat itu adalah seorang General Manager di sebuah perusahaan melihat semangat para pendiri Starbucks. Saat pertama kali mengunjungi toko, ia menilai bahwa perusahaan ini sangat berpotensi dan bisa menjadi besar.

Kepincut dengan Starbucks

Sumber: www.scmp.com

Jerry dan Gordon kemudian menjelaskan kepada Howrad perihal apapun tentang kopi. Si hitam ini tidak hanya berfungsi sebagai pelepas lelah, namun di balik itu semua ada nilai, citarasa, sejarah panjang dan masa depan yang cemerlang.

Baca Juga  Jan Koum, Sosok Dibalik Suksesnya Whatsapp

Saat itu usia Starbucks masih 10 tahun dan Howard mulai kepincut hingga memutuskan untuk bergabung. Bekerja di perusahaan yang terbilang masih baru itu bukanlah hal yang mudah. Ia kemudian ingin melakukan perubahan terhadap toko agar semakin diminati oleh banyak orang, yaitu dengan mengubah menjadi bar espresso ala Italia.

Tidak lantas disetujui, Jerry dan Gordon mengatakan bahwa perusahaan sedang terlilit hutang dan tidak memiliki modal untuk itu. Meski mereka memiliki Steve yang saat itu adalah investor, namun semua perubahan melalui perdebatan dan proses yang panjang, terutama Howard yang terus mendesak.

Mendirikan perusahaan sendiri dan penolakan

Sumber: heraldnet.com

Berangkat dari modal nekat dan Starbucks yang sedang terlilit hutang, Howard tidak lantas setuju dengan konsep perusahaan yang diam di tempat. Sebab ia beranggapan toko tersebut memiliki potensi yang bagus di masa yang akan datang, maka dirinya berencana mendirikan perusahaan sendiri.

Dari pengalamannya di Starbucks, ia beranggapan bahwa hutang justru akan menjadi momok dari kerugian dan kegagalan. Maka Howard memutuskan untuk tidak melakukan hal tersebut, malah justru mencari investor untuk memodali bisnis ini.

Perjalanan mencari investor bukanlah hal yang mudah. Mempresentasikan ke sana kemari sama sekali tidak membuahkan hasil. Bahkan Howard juga menempuh cara dari mulut ke mulut, namun yang ia dapatkan hanyalah cemoohan, direndahkan dan berujung pada penolakan.

Proses yang tidaklah mudah itu dilaluinya selama beberapa tahun, hingga ia memutuskan untuk mengumpulkan uang sendiri untuk membeli Starbucks dari pendirinya. Maka, pada tahun 1987, perusahaan kopi raksasa itu berpindah tangan dan resmi dikelola oleh Howard Schultz.

Dicurigai oleh karyawan

Sumber: thisisinsider.com

Di tahun pertama setelah pembelian Starbucks, Howard tetap mempertahankan karyawan lama. Dengan alasan mereka mengetahui seluk beluk toko sejak awal dan lebih mengerti bagaimana selera para pelanggan.

Baca Juga  Berawal dari Suka Naik Ojek, Nadiem Makarim Dirikan Gojek

Tetapi justru perlakukan baik Howard dianggap memiliki maksut tersembunyi. Ia dicurigai dan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari para karyawan. Tentu saja hal tersebut tidak akan membuat perusahaan bertahan lama bila dibiarkan. Tidak kehabisan akal, sang bos baru itu kemudian menerapkan sistem kekeluargaan kepada semua pekerjanya.

Ia juga meembrikan pilihan atas saham perusahaan, sehingga memunculkan rasa sense of belonging pada setiap karyawan. Dengan demikian mereka lebih bekerja keras dan menjadikan Starbucks sebagai rumah bersama. Cara ini terbukti ampuh dalam perkembangan bisnis Howard yang semakin berkembang.

Mengekspansi dunia

Sumber: www.businessinsider.sg

Tangan dingin Howard banyak berpengaruh pada perkembangan bisnis Starbucks. Melalui ide cemerlang dan penerapan strategi bisnis yang tepat, memunculkan misi untuk merambah ke seantero dunia.

Dengan dibantu oleh Orin C Smith, ia lantas mengembangkan usaha hingga ke belahan dunia manapun termasuk Indonesia. Orin sendiri merupakan CEO yang dipilih langsung dan turut menyumbangkan gagasan-gagasan cemerlang.

Saat ini Starbucks telah memiliki puluhan ribu cabang di seluruh dunia. Menghadirkan biji kopi pilihan, perusahaan juga menambahkan menu-menu inovatif lainnya untuk non penikmat kopi. Mereka juga rajin memberikan promo-promo menari, sehingga bisa lebih menarik perhatian.

Berkat kegigihan Howard, Starbucks berhasil menjadi pioneer kedai kopi yang memberikan citarasa nikmat kepada pelanggan. Dengan menerapkan prinsip ramah terhadap konsumen, bisnis berhasil mencuri perhatian semua kalangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download E-Magazine Grapadinews!

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This