Sang Nahkoda Tasawuf Prof. Dr. H. Syekh Djalaludin

Advertisements

Khazanah pemikiran kali ini akan mengemas tentang sesosok nahkoda tasawuf yang biasa disebut dengan Prof. Dr. H. Djalaluddin. Beliau mengambil peran sebagai pembela tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah dalam menakodai tasawuf.

A.      Lahirnya Sang Nahkoda Tasawuf Ke-35

Sang nahkoda tasawuf yaitu Prof. Dr. H. Syekh Djalaluddin dilahirkan pada Tanggal 31 Desember 1882 yang bertempat di Kotabaru Tigo Maninjau, Sumetera Barat. Beliau memiliki kurang lebih sebanyak 55 karya yang dikemas dalam sebuah buku dan kitab. Salah satu karya beliau yang tersohor adalah buku Sinar Keemasan.

Terdapat hal yang menarik dalam buku Sinar Keemasan yang menyatakan bahwa “apabila seorang salik dapat beserta dengan nama Allah (tajali asma Allah), maka dia tidak akan mempan dengan senjata. Hal tersebut dilandaskan dengan sebuah hadis qudsy, bahwa : kalimat Laa Ilaaha Illallah itu bentengKu (Allah). Siapa masuk ke dalam bentengKu akan aman dari segala adzab dunia dan adzab akhirat”. Buku Sinar Keemasan dikemas menjadi 2 jilid buku.

Berdasarkan dari uraian buku Sinar Keemasan di atas, perjuangan dan kesuksesan yang telah diraih oleh Prof. Dr. H. Syekh Jalaluddin tidak dapat dipisahkan dari latar belakang khazanah pemikiran beliau sebagai nahkoda tasawuf. Dimana khazanah pemikiran beliau selalu berorientasi terhadap Allah semata. Itulah yang merupakan konsep dari ma’rifat yang beliau tanamkan dalam kitabnya yang berjudul Pembuka Rahasia Allah serta beberapa kitab yang lain.

Paham ma’rifat yang terlihat dalam karya Pembuka Rahasia Allah adalah sebagai spirit pembebasan (eksistensial). Beberapa indikasi yang terlihat dalam fenomena sejarah, baik yang tertulis maupun secara lisan adalah kecemasan atau pemikiran seperti ketidakbebasan dan ketakutan terhadap penjajah atau Kolonial Belanda pada masa itu.

Baca Juga  Pembangunan Sarana Dakwah Guru Besar DR. Syekh Salman Da’im

B.       Lahirnya Penerus

Sejatinya sang nahkoda tasawuf Prof. Dr. H. Syekh Djalaluddin merupakan salah satu Ulama Nusantara yang menjadi orang kepercayaan dari Presiden Ir. Soekarno. Beliau memiliki peran penting dalam sejarah Islam dan mengembangkan Bangsa Indonesia.

Peran penting tersebut dapat dilihat dalam aksi beliau melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Kolonial Belanda. Bahkan beliau berhasil membentuk dan menahkodai PPTI (Persatuan Pembela Tarekat Islam). PPTI inilah yang menjadikan beliau sebagai nahkoda tasawuf. Tujuannya adalah untuk membela dan memperjuangkan tarekat – tarekat yang lainnya, tidak hanya tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah.

Advertisements

Setelah wafatnya Prof. Dr. H. Syekkh Djalaluddin pada hari Jum’at subuh di Rumah Duka Jl. Angsana 6, Jakarta, 23 Juli 1976 genap berusia 94 Tahun. Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah yang diajarkan oleh Prof Dr. H. Syekh Djalaluddin diteruskan dan dibawa oleh penerusnya yaitu Syekh Mursyid Musytari Al-Baronty. Beliau merupakan menantu sekaligus murid setia dari Prof. Dr. H. Syekh Djalaluddin. Kedekatan mereka dapat dilihat dalam potongan foto di bawah ini.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download E-Magazine Grapadinews!

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This