Menjadi Seorang Konsultan


0
Spread the love

 

http://fastabiqproperty.com

 

Wira. Mendengar namanya saja sudah membuatku malas. Entah kenapa rasa-rasanya ada sesuatu hal yang membuatku sangat kesal terhadapnya. Ah, iya Wira adalah temanku sejak di bangku SMA. Begitupun kini ia juga kembali menjadi salah seorang temanku di bangku kuliah. Sebenarnya aku dan dia tidak dalam keadaan yang berselisih, namun tak juga terlalu akrab. Aku hanya sebatas tahu terhadapnya, begitupun sebaliknya, itu saja.

Di awal-awal perkuliahan, ia seringkali menyapaku seperti orang yang telah lama kenal. Risih. Aku yang tak ingin dicap sombong, akhirnya hanya membalas sapaannya dengan seadanya. Pun jika ia menarik teman-teman lainnya untuk ikut berbincang denganku, rasanya ingin sekali aku menenggelamkan kepalaku dan memejamkan mata di atas topangan tanganku sendiri. Bersikap tak acuh kepada mereka, rasanya kuingin sekali seperti itu.

Introvert adalah kepribadianku. Mungkin hal inilah yang membuatku sedikit lebih susah untuk membuka ruang bagi public. Aku lebih menyukai suasana yang tenang, tidak sepertinya. Ia memang orang yang pandai bergaul dan tak sungkan untuk menegur siapapun. Mulai dari basa basi belaka hingga terlihat begitu antusias jika sedang membahas satu topic.

                                                             https://www.pngdownload.id/

Pernah suatu ketika, ada mata kuliah yang mengharuskan kami berdiskusi dengan makalah yang berbeda-beda tema. Kebetulan saat itu aku  dan dia berbeda kelompok. Bukan Wira namanya kalau tak banyak cakap. Aku ingat betul saat itu, ia menjadi lawan dari kelompok kami untuk berdebat. Jujur saja aku sedikit murka ketika ia berlagak seakan paling benar saja. Padahal jelas informasi yang ia kutip itu salah, tapi ia bisa tetap memengaruhi audience, mereka seperti terhipnotis dengan apa yang ia katakan.

“Bagaimana, apakah teman-teman sekalian setuju?” tanya Wira mengakhiri materinya.

“Iya…..” jawab seisi kelas.

Aku hanya berdecak kesal. “Apasih,” ucapku dalam hati. Melihat wajahku yang semerawut, tampaknya Wira mengerti. Tak sengaja bola mata kami bertemu, ia tersenyum penuh kemenangan kepadaku. Sedang aku biasa saja, aku hanya merasa kesal melihat tingkah laku teman lainnya yang terkesan mau saja dibodohi.

Tak terasa mata kuliah 4 SKS telah selesai. Wira mengiringi langkahku dari belakang. Aku yang menyadari hal tersebut, spontan menghentikan langkahku secara mendadak hingga ia hampir saja menabrak tubuhku.

“Kamu ngapain, sih?” aku bertanya dengan suara sedikit meninggi.

“Ya jalan. Ini nih kaki aku mau jalan,” jawabnya cengengesan. “ Gak boleh emang?” lanjutnya.

Mendengar hal tersebut, aku kembali melanjutkan langkahku. Malas. Begitupun dengan Wira, ia juga kembali melangkah mengiringiku. Namun, tak lagi dibelakangku. Tapi, tepat di sampingku.

“Ya, Tuhan. Ini anak kenapa sih,” gumamku dalam hati. Aku bersikap seolah tak tahu jika ia terus mengikuti langkahku hingga akhirnya ia kembali membuka suara.

“Gimana tadi aku di kelas? Keren gak? Udah pas belum jadi motivator?”

Aku hening, tak acuh.

“Aku tahu kalo yang aku sampaikan tadi sedikit keliru, hanya saja aku sedang mengetes kemampuanku. Jika berhasil, maka aku rasa cukup percaya diri jika nanti aku akan menjadi seorang motivator hebat selesai kuliah. Dan jika jaringanku sudah cukup melebar, aku akan membuka jasa konsultan di kota kita ini.”

Mendengar pernyataannya, aku berdelik. Menunggu kalimat selanjutnya.

“Namun, jika tadi aku tak berhasil memengaruhi mereka, maka aku akan meminta maaf dan mengklarifikasi bahwa materi tersebut keliru.”

“Hm…” balasku cepat seraya menganggukkan kepala.

“Bahkan, aku juga sudah siap jika saja tadi kamu menyanggah jawabanku. Untunglah kamu tak buka suara tadi. Jadi, aku bisa merasa senang saat ini.”

“Aku bukan tak mau, aku hanya malas. Kamu bodoh, tapi mereka lebih bodoh yang mau begitu saja dibodoh-bodohi. Jika aku jadi kamu, aku akan membicarakan fakta atau setidaknya tidak mengiring opini ke arah yang salah. Dan berbicara mengenai jasa konsultan, selamat bertemu nanti. Aku akan menjadi kompetitormu. Akan aku pastikan, perusahaanku akan jauh lebih eksis dari perusahaan yang kamu bangun.”

 

                                                              https://www.pngdownload.id

Wira terdiam. Ia meneguk air liurnya sendiri. Mungkin ia terkejut mendengar seorang aku untuk pertama kalinya berbicara cukup serius dan sedikit menohok harga dirinya. Tak kuhiraukan apa yang berkecambuk di kepalanya. Kulanjutkan kembali kalimatku.

“Sekarang aku kasih tahu ke kamu ya, langkah yang kamu ambil saat ini salah. Jangan sampai nanti kamu berkembang menjadi seorang konsultan yang keliru mengambil sikap,” ucapku dengan menekan kata demi kata. “Memiliki keterampilan berkomunikasi memang diperlukan untuk menjadi seorang konsultan. Tapi, ada hal yang jauh lebih penting dari itu. Tahu gak apa?”

Mendengar pertanyaanku, Wira menggeleng cepat.

“Yang paling penting dari sekedar pandai berkomunikasi yakni membangun citra diri dan kredibilitas. Percuma saja jika kamu hanya pandai berkomunikasi, tapi tak pandai mengolah diri.” Ucapku mengakhiri percakapan kami. Aku kembali melangkah menjauh meninggalkan Wira yang termenung seorang diri.

                                                       https://www.pngdownload.id

“Terima kasih, Ranti. Aku janji aku akan menjadi seorang konsultan yang tak hanya memiliki keterampilan dalam hal berkomunikasi, lebih dari itu aku akan membangun citra diri ke arah yang positif dan menjaga kredibilitasku. Tak hanya itu, aku juga akan mulai serius dalam belajar agar memiliki cukup pengetahuan yang kompeten di bidang tersebut. Suatu saat nanti akan kubuktikan kepadamu. Lalu, sambutlah aku sebagai competitor terbaikmu.” Ucap Wira dalam hati penuh keyakinan dan semangat yang berkobar.

 

 

 

 

 


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
Laras PW

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals