Manfaatkan Teknologi, Asia Tenggara Diharapkan Bisa Atasi Inefisiensi di Sektor Logistik

Advertisements
Sumber: presidentpost.id

Grapadinews.co.id – Tantangan bagi perusahaan logistik yakni persaingan semakin ketat dan biaya pengiriman semakin meningkat. Jasa pengiriman di Indonesia mengalami lonjakan tinggi pada tingkat biaya. Akan tetapi rupanya hal tersebut tidak berpengaruh bagi salah satu keompok logistik Alibaba, Cainiao Smart Logistics Network.

Dilaporkan dari Forbes, perusahaan logistik raksasa itu telah mengirimkan 100 juta paket pertama dari Singles Day Global Shopping Festival dalam jangka waktu 3 hari. Hal ini menunjukkan betapa super power-nya e-commerce.

Sebagai salah satu kawasan yang terkenal dengan indsutrinya, Asia Tenggara menjadi sorotan utama terkait perkembangan logistik. Digadang-gadang sektor tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pertumbuhan makin naik. Mengapa demikian? Berikut ulasan lengkapnya!

Cainiao memproses jutaan paket

Sumber: gizmosupport.com

Cainiao tercatat mampu memproses 5 juta paket yang dikirim melalui bea cukai dalam kurun waktu kurang dari 5 jam. Pencapaian ini masuk ke dalam rekor tertinggi sepanjang masa. Terhitung 416 juta paket untuk pengiriman dalam negeri telah selesai dalam satu hari. Sejauh ini perusahaan logistik lain di Asia Tenggara tidak ada yang bisa menyaingi prestasi ini, baik dalam skala, inovasi dan jaringan.

Populasi di Asia Tenggara

Sumber: dailysocial.id

Asia Tenggara merupakan rumah dari 650 juta orang yang tersebar di negara dan wilayah berbeda. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat. Daerah ini telah mengalami ekspansi populasi menengah ke atas yang semakin kuat. Hal tersebut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi begitu cepat.

Setidaknya pembangunan makin gecar dan kekuatan perekonomian warga juga mengikuti. Nielsen memperkirakan bahwa populasi kelas menengah atas di kawasan ini akan bertambah 400 juta pada tahun 2020, dua kali lipat dari tahun 2012.

Menurut data dari Dana Moneter Internasional, negara yang tergabung dalam ASEAN pendapatan rata-rata penduduknya sekitar $2,8 triliun atau setara 39,2 triliun rupiah pada 2017. Sementara di tahun 2018 meningkat menjadi 41,58 triliun rupiah.

Baca Juga  Jasa Pembuatan Studi Kelayakan: Peran Dalam Evaluasi Rencana Bisnis

Pertumbuhan ekonomi Di Asia Tenggara juga didukung dengan peningkatan jumlah konsumen di berbagai wilayah. Pada tahun 2018, setidaknya jumlah pengakses internet untuk belanja online mencpaai 58% atau setara dengan 3,5 juta jiwa. Perilaku konsumen yang berubah cepat tersebut memicu ledakan industri e-commerce.

Perhitungan jumlah konsumen e-commerce

Sumber: xadigital.com

Pada tahun 2012, pasar logistik Cina berada di puncak tertingginya. Negara tersebut mencatat angka 15% selama beberapa tahun. Menurut sebuah studi dari Google dan Temasek, penjualan di kawasan negara Tirai Bambu mencapai dua kali lipat pada tahun 2025 atau setara dengan 7,9 triliun rupiah.

Kendati negara-negara di Asia Tenggara memiliki tujuan yang sama yakni pemerataan pembangunan, namun ada beberapa wilayah yang justru mengalami masalah dalam bidang logistik. Hingga saat ini kawasan ini masih didominasi oleh penyedia layanan logistik pihak ketiga.

Akan tetapi sistem tersebut harus bisa mengembangkan kemampuan digitalnya karena termasuk dalam aset berharga. Tentu saja, hal tersebut juga merupakan peluang bagi para pebisnis di bidang startup untuk membangun bisnis berbasis teknologi.

Generasi milenial adalah sasaran empuk untuk pembangunan bisnis e-commerce. Salah satu yang telah berhasil yakni Accenture. Perusahaan tersebut dibuat dan dikembangkan oleh anak muda di Asia. Perkiraan pendapatan mereka diprediksi akan mencapai 84 triliun rupiah pada 2020.

Advertisements

Logistik di Indonesia

Sumber: www.thejakartapost.com         

Konsumen masa kini menginginkan sesuatu yang bersifat instan karena dirasa hemat waktu dan biaya. Mereka juga telah terbiasa dengan berbagai aplikasi. Oleh sebab itu pebisnis e-commerce di Asia Tenggara berlomba-lomba memberikan pelayanan cepat untuk menarik perhatian calon konsumen.

Selama tiga tahun terakhir pemerintah Indonesia telah banyak menghabiskan waktu dan upaya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur negara dan menyelesaikan masalah logistik. Ada peningkatan signifikan di sektor ini, seperti yang terlihat dalam Kinerja Logistik, laporan dua tahunan yang diterbitkan oleh Bank Dunia.

Baca Juga  Tutorial Membuat Business Plan dengan Tepat

Awalnya Indonesia menduduki peringkat ke-46, kemudian naik ke posisi 17 dari 168 negara yang termasuk. Terlepas dari itu, negara ini menyumbang sebagian besar pasar e-commerce di kawasan Asia Tenggara. Namun sayangnya, rata-rata biaya logistik mencapai 24% dari PDB. Sedangkan rasio di negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia sebesar 13,2% serta 13%.

Gabungan teknologi dan logistik

Sumber: www.brandquarterly.com

Sektor digital mencoba untuk menawarkan solusi terbaik. Salah satu e-commerce terbesar lainnya seperti Lazada sudah membangun operasi pengiriman sendiri di Indonesia untuk memastikan ketepatan waktu. Startup Shipper juga memberikan penawaran terbaik guna mengurangi inefisiensi dalam bisnis logistik lokal berupa penjemputan dan jasa pengiriman dengan hari yang ditentukan sendiri oleh konsumen.

Di Asia Tenggara bisnis online seringkali disertai dengan peningkatan harga guna mendapatkan keuntungan dari itu. Secara bersamaan, penyedia logistik dituntut merangkul teknologi untuk mengembangkan dan mempermudah pelayanan.

Di Vietnam ada sebuah startup bernama Logivan. Perusahaan memanfaatkan data untuk mengelola sumber daya sebaik mungkin. Mereka mengumpulkan data tentang supir, manajer dan semua yang terlibat dalam usaha. Di samping itu, ada penetapan harga sebagai bentuk transparansi agar pembayaran sama rata.

Bekerja sama dengan teknologi, logistik adalah sektor penting dan menjanjikan. Keluar masuknya barang setiap hari hingga mencapai angka puluhan ribu atau setara triliunan rupiahn. Solusi tersebut bisa digunakan oleh pemerintah di berbagai negara di Asia Tenggara untuk memperbaiki inefisiensi.

Pada dasarnya, masyarakat modern lebih suka hal yang bersifat instan demi mempersingkat waktu, tenaga, lebih-lebih biaya. Maka dipilihlah berbelanja melalui internet sebagai kegiatan yang tidak bisa dipisahkan. Berdasarkan hal tersebut, seharusnya Asia Tenggara bisa memperbaiki sistem di bidang logistik untuk pertumbuhan ekonomi lebih baik.

Baca Juga  Perbedaan Manajemen Bisnis Gojek dan Grab (1)

 

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download E-Magazine Grapadinews!

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This