Kisah Mengandung Hikmah dari Sufi Hasan Al-Bashri

Advertisements

Kisah yang Mengandung Hikmah Luar Biasa dari Sufi Hasan Al-Bashri

 

Image : Pinterest

 

 

Di dalam hagiografi sufi, Hasan al-Bashri dimuliakan sebagai salah seorang diantara tokoh-tokoh suci yang terbesar pada masa awal sejarah islam. Banyak ucapan dan pidato nya yang dikutip oleh para penulis bangsa arab, dan tidak sedikit diantara surat-surat nya yang masih dapat disaksikan umat islam hingga sekarang.

 

 

Biografi Hasan al-Bashri

 

Abu Said al-Hasan bin Abil Hasan al-Bashri lahir di kota Madinah pada tahun 21 Hijriah atau 642 Masehi. Ia adalah ulama dan cendekiawan muslim yang lahir pada awal masa kekhalifahan umayyah. Ibunya bernama Khairah, budak Ummu Salamah yang dimerdekakan.

Bapaknya bernama Pirouz yang kemudian dikenal sebagai Abu Hasan. Bapaknya juga seorang budak pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Dari kampungnya, Pirouz kemudian diberikan kepada Ummu Salamah dan lantas menikah dengan budak yang dimerdekakan oleh Ummu Salamah, yaitu Khairah.

Semasa kecil, Hasan al-Bashri pernah menyusu kepada Ummu Salamah (Istri Rasulullah) pada usia 14 bulan. Setelah dewasa al-Hasan pindah ke kota Bashrah, Irak dan menetap disana. Hasan al-Bashri juga pernah berguru kepada sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam diantaranya Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy’ari, Jabir bin Abdullah, dan Abdullah bin Ummar.

Hasan tumbuh menjadi seorang tokoh diantara tokoh terkemuka pada zamannya. Ia sosok yang cemerlang dan termansyur karena kesalehannya yang teguh. Secara blak-blak an Hasan termasuk tokoh sufi yang membenci sikap kalangan atas yang berfoya-foya.

Sementara itu, Hasan al-Bashri dianggap sebagai pendiri gerakan teolog dari kalangan Mutazilah. Amr bin Ubaid dan Wasil bin Atta terhitung sebagai muridnya. Hasan meninggal di kota Bashrah pada tahun 110 Hijriah atau 728 Masehi pada umur 89 tahun.

Baca Juga  Abuya Dr Syekh Muhammad Nur Ali Menjawab Tantangan Zaman Melalui Dakwah

 

 

Baca Juga : Kisah Sufi Rabi’ah al-Adawwiyah Pencari Cinta Tuhan

 

 

Kisah Hasan al-Bashri

 

Ketika itu Hasan al-Bashri melihat pemuda yang duduk di tepi sungai Dajlah bersama seorang perempuan. Di samping pemuda dan perempuan tersebut, terdapat sebuah botol yang menyerupai botol arak atau minuman keras. Kemudian Hasan al-Bashri berkata, “Begitu buruknya akhlak orang itu, maka alangkah baik jika ia seperti aku.”

Tak berselang lama kemudian, di sungai Dajlah ada sebuah perahu yang hampir tenggelam. Pemuda yang sedang duduk di tepi sungai tadi langsung sigap menyelamatkan para penumpang di perahu tersebut. Total dari penumpang yang diselamatkan pemuda tersebut adalah enam dari tujuh orang.

Kemudian, pemuda tersebut berkata pada Hasan al-Bashri, “Jika engkau memang lebih mulia dariku, maka selamatkanlah satu penumpang yang tersisa. Aku telah menyelamatkan ke enam diantaranya dan engkau hanya diminta untuk menyelematkan satu orang saja”.

Setelah itu, Hasan al-Bashri langsung menuju ke sungai dan berniat untuk menyelamatkan penumpang yang tersisa. Namun sayang, ternyata Hasan al-Bashri tidak berhasil menyelamatkan nyawa satu orang tersebut.

Pemuda tersebut lantas menghadap kepada Hasan al-Bashri dan berkata, “Tuan, jikalau engkau tahu bahwa sebenarnya perempuan yang duduk di sampingku itu adalah ibuku. Dan isi dari botol tersebut bukanlah anggur atau arak, melainkan hanya air minum biasa.”

Mendengar perkataan pemuda tersebut, Hasan al-Bashri merasa tertampar atas kesombongan dan prasangka buruknya. Lalu ia berkata pada pemuda itu, “Sejatinya engkau telah menyelamatkan enam orang tersebut dari bahaya tenggelam ke dalam sungai. Sebagaimana itu maka selamatkanlah aku dari bahaya tenggelam ke dalam kebanggaan dan keangkuhan.”

Pemuda tersebut kemudian menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonanmu tuan.”

Baca Juga  Motivasi Penyemangat di Tengah Redupnya Jiwa

Atas kejadiaan itulah, Hasan al-Bashri menyesal dan merubah kebiasaan hidupnya dari kesombongan. Ia menjadi pribadi yang lebih rendah hati serta tidak pernah menganggap dirinya lebih baik dari orang lain.

 

 

Semoga dari kisah Hasan al-Bashri tersebut dapat kita ambil hikmahnya. Wallahu a’lam.

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download E-Magazine Grapadinews!

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This