Dampak PPKM Skala Mikro bagi UMKM di Indonesia

Advertisements

ppkm skala mikro

Gelombang kasus Covid-19 sampai saat ini belum juga berangsur turun. Sesaat kondisi mulai sedikit stabil ternyata kasus Covid kembali merebak. Hal ini tentu menimbulkan masalah baru, karena dampak Covid-19 tersebut berlaku secara nasional bahkan global. Untuk menanggulangi hal tersebut, pemerintah menerapkan PPKM skala mikro bergantung kepada kondisi daerah masing-masing.

Namun, muncul pertanyaan “bagaimana nasih UMKM jika PPKM skala mikro diberlakukan kembali?”. Mengapa hal ini penting dibahas? Karena PPKM yang dilakukan beberapa bulan lalu memberikan dampak besar kepada UMKM.

Pembatasan jam operasional membuat UMKM harus membuka usahanya lebih lama dan tutup lebih cepat. Beberapa UMKM kuliner yang biasa beroperasi di malam hari mau tidak mau hanya bisa berjualan dalam waktu yang singkat.

Bagaimana dengan UMKM lainnya? Tentu saja tetap terkena dampak namun bergantung kepada produk dan jasa yang diberikan. Walaupun demikian, pelaku usaha UMKM seharusnya sudah memiliki beberapa cara untuk mengatasi hal ini. Mengingat kejadian yang sama sudah pernah terjadi sebelumnya dan beberapa UMKM berhasil bertahan.

Dampak PPKM Skala Mikro Pada Sektor UMKM

Pemberlakuan PPKM skala mikro tentu tidak dilakukan begitu saja. Karena, hal ini diberlakukan pada daerah rawan dengan menerapkan pembatasan waktu interaksi antar masyarakat di lingkungan masing-masing.

Cara ini cukup efektif dalam mengurangi penyebaran virus Covid-19. Akan tetapi, dampak negatifnya tetap terasa terutama dalam bidang ekonomi yang tidak bisa kita pungkiri bahwa salah satu penopang ekonomi Indonesia adalah UMKM. Beberapa sektor bisnis terkena pukulan terparah sehingga banyak di antaranya yang gulung tikar.

Sektor utama yang mengalami kerusakan terparah dari Covid-19 adalah pariwisata. Jadi, kota-kota yang mengandalkan sektor ini akan mengalami kemunduran dari sisi ekonomi. Contohnya saja Kota Yogyakarta yang kaya akan wisata alam dan budayanya.

Baca Juga  5 Paket Quickle Permit Untuk Pendirian PT CV Yayasan dan Lainnya

Akibat Covid-19, jumlah pariwisata berkurang drastis sehingga beberapa perusahaan travel mengalami kerugian. Tetapi, dampaknya tidak hanya dirasakan pengusaha travel tetapi juga berbagai UMKM lainnya yang memperoleh rezeki dari pariwisata tersebut.

Beberapa contohnya adalah pedagang suvenir, cindera mata dan lainnya yang bisa Anda temukan di Yogya. Akibanya perputaran uang di Yogya berkurang sehingga daya beli menurun. Kurangnya daya beli membuat produsen lainnya untuk mengurangi produksi karena produknya kurang diperhatikan konsumen.

Salah satu cara lain yang bisa dilakukan oleh pengusaha UMKM adalah mengurangi beban produksi dengan mengurangi pemakaian bahan baku atau pegawai. Akibatnya pengangguran meningkat pesat dan kesejahteraan masyarakat Indonesia menurun.

Akan tetapi, PPKM mikro diberlakukan untuk melihat hal yang lebih besar. Karena tanpa adanya aturan ini maka krisis kesehatan akan terus berjalan. Hal ini senada dengan pendapat¬† Andika Pujangkoro SE, M. Ec yang merupakan pimpinan dari Grapadi group. Beliau berpendapat bahwa “PPKM mikro adalah langkah yang tepat untuk kasus pandemi di Indonesia saat ini. Perhatian pemerintah untuk mengatasi Covid-19 harus didahulukan. Karena krisis pandemi ini memiliki efek domino yang bisa berdampak pada sektor lain seperti ekonomi untuk waktu yang panjang”.

Ketika masalah pandemi tersebut berhasil diatasi maka sektor lain akan pulih dengan sendirinya dan masyarakat dapat beraktivitas seperti sedia kala

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download E-Magazine Grapadinews!

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This