CEO Bitcoin Meninggal Dunia, QuadrigaCX Terancam Krisis Akibat Kata Kunci Tak Diketahui

Sumber: www.finder.com.au

Grapadinews.co.id – Gerald Cotten, CEO Bitcoin asal Canada dikabarkan meninggal dunia beberapa waktu lalu. Diketahui ia bersama sang istri mengunjungi India untuk bertemu dengan anak yatim dan berkebutuhan khusus. Karena penyakit Crohn yang menyerang usus, Cotten pun menghembuskan nafas terakhir di usia 30 tahun. Kabar duka baru diunggah melalui Facebook pada 14 Januari 2019.

Namun sayang, kematiannya berdampak pada perusahaan Bitcoin yang ia pimpin. Dilaporkan bila QuadrigaCX terancam krisis karena hampir sebanyak US$200 juta (2,8 triliun rupiah) dana dari nasabah tidak dapat dicairkan. Mengenai hal ini berikut beberapa fakta di balik ancaman krisis ini!

Tak dapat dicairkan karena terhambat password

Sumber: ambcrypto.com

Quadriga adalah perusahaan cryptocurrency terbesar di Kanada. Mereka telah memimpin pasar Bitcoin selama beberapa tahun sejak 2013. Akan tetapi Co-founder yang juga pembentuk firma ini meninggal dunia secara mendadak di akhir tahun lalu.

Hal tersebut kemudian menjadi hambatan bagi Quadriga karena tidak ada yang mengetahui kata sandi komputer yang dibuat oleh Cotten. Dikabarkan bila hampir US$200 juta (2,8 triliun rupiah) uang milik nasabah tersimpan dalam sistem rahasia tersebut. Sang bos membuatnya dengan tujuan agar tidak dapat diakses oleh siapapun. Tetapi hal tersebut justru membuat kebingungan beberapa orang karena tidak dapat membongkarnya.

Cotten menggunakan akses khusus ke cold wallet

Sumber: ambcrypto.com

Dilaporkan bila harga bitcoin di pasar cryptocurrency naik 1,5% selama tujuh hari terakhir ini. Sementara itu, keberangkatan Cotten Desembar lalu ke India untuk berkunjung di salah satu panti asuhan. Ia meninggal karena penyakit Crohn dan perusahaan baru mengumumkan melalui Facebook.

Diwakilkan oleh Jennifer Robertson, istri Cotten mengatakan bila pada pengajuan pengadilan 31 Januari lalu situs berita crypto CoinDesk melaporkan bila Quadriga berhutang kepada pelanggannya sebesar US$190 juta (2,6 triliun rupiah) dalam bentuk tunai dan cryptocurrency.

Akses menuju cryptocurrency Quadriga tidak tersedia dalam beberapa hari dikarenakan proses pembongkaran sandi. Dilaporkan melalui situs resminya bila untuk menjamin keamanan dana nasabah uang digital dari para peretas serta hacker, sang bos menyimpannya dalam sistem khusus bernama cold wallet. Tidak ada orang yang memiliki akses ke sana selain dirinya.

Baca Juga  Hemat Waktu dan Biaya, Hunian Dekat KRL Jadi Perburuan

Pembongkaran dan tidak berhasil

Sumber: chepicap.com

Dalam perangkat tersebut tersimpan dana dalam bentuk mata uang digital hingga triliunan rupiah. Pihak perusahaan berusaha untuk membongkarnya namun mengalami kesulitan dan pada akhirnya terancam krisis.

Selama berminggu-minggu mereka telah bekerja keras untuk mengatasi likuiditas, termasuk cadangan uang di cold wallet. Jennifer Robertson mengatakan bila sang suami menyimpan data nasabah dalam komputer jinjing. Sehari-hari Cotten juga kerap bekerja di luar rumah, Fall River, Nova Scotia. Akan tetapi usaha tersebut belum berhasil karena tidak ada yang tahu password dan kata kunci. Bahkan bos bitcoin tersebut juga tidak pernah meninggalkan catatan apa pun.

Muncul spekulasi

Sumber: www.newsbtc.com

Kabar yang diunggah langsung di situs resmi Quadriga kemudian tersebar. Banyak orang, utamanya para nasabah yang justru mempertanyakan bukti bahwa Cotten benar-benar meninggal dunia.

Bulan lalu, Quadriga mengizinkan perdagangan bitcoin, litecoin dan etehreum. Maka menurut laporan, setidaknya perusahaan memiliki sekitar 26.000 bitcoin (1,2 triliun rupiah), 200.000 litecoin (91 miliar rupiah), dan 430.000 eter (644 miliar rupiah), serta lebih dari US$2 juta (28 miliar rupiah) dalam varian bitcoin, uang tunai, bitcoin SV dan bitcoin emas.

Quadriga pernah bermasalah

Sumber: bitcoinexchangeguide.com

Sementara itu, Quadriga pernah tersandung masalah dengan nasabah yang melibatkan mitra perbankanya, sehingga mereka sempat bertempur di jalur hukum selama beberapa waktu. Kemudian tahun lalu, Canadian Imperial Bank of Commerce (CIBC) membekukan sekitar US$2,8 juta (11.2 miliar rupiah) aset yang dipegang oleh perusahaan tersebut karena tidak dapat mengindentifikasi siapa pemilik sebenarnya dana-dana yang tersimpan dalam sistem.

Selama empat minggu terakhir ini, pihak perusahaan telah bekerja secara maksimal dan intensif untuk mengatasi masalah likuiditas. Serangkaian proses yang meliputi menemukan dan mengamankan cadangan cryptocurrency cold wallet. Kemudian mencari yang diperlukan untuk memenuhi saldo milik nasabah, hingga sumber lembaga keuangan yang menerima draft bank yang akan ditransfer kepada perusahaan.

Baca Juga  Investor Cryptocurrency di Indonesia Didominasi Oleh Generasi Milenial

Masalah ini seolah menambah rangkaian peristiwa yang menyeret nama bitcoin, mulai dari skandal pertukaran, pencurian dan pelanggaran data. Oleh sebab itu Dean Skurka, wakil presiden dari rival bitcoin dan pertukaran uang kripto Bitbuy berharap bila pemerintah mau membantu dalam pengambilan tindakan dan mengatur pertukaran mata uang kripto. Tujuannya agar tidak ada pihak lagi yang merasa dirugikan serta untuk melindungi nasabah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download E-Magazine Grapadinews!

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This