Buka Banyak Unit, Dunkin’ Donuts Berencana Ubah Konsep Jadi Waralaba Non-Tradisional

Sumber: www.bizjournals.com

Grapadinews.co.id – Perusahaan multinasional telah mengepakkan sayap sejak sebelum Perang Dunia I. Sementara di Indonesia mulai eksis pada pertengahan tahun 1980-an. Hingga saat ini Multinational Corporations tumbuh berkali lipat setiap tahunnya seiring dengan pertumbuhan perdagangan internasional. Mereka bergerak dalam berbagai bidang, mulai dari bahan makanan, migas, mineral, pendidikan hingga manufaktur.

Salah satu MNC yang sampai saat ini masih beroperasi di berbagai wilayah di Indonesia adalah Dunkin’ Donuts. Waralaba tersebut masuk ke tanah air pada tahun 1985 dan digadang-gadang sebagai yang pertama kalinya. Di Amerika perusahaan tersebut telah memulainya pada 1968 sebagai perintis donat pertama yang digoreng dengan menggunakan mesin otomatis.

Meski kemudian banyak bermunculan pesaing, namun Dunkin’ Donuts tetap menjadi favorit dan dinilai paling berhasil. Mereka telah membuka 8.800 gerai donat di berbagai negara. Di Indonesia bahkan telah mencapai 200 gerai.

Namun tahun ini pelopor waralaba non tradisional tersebut sedang mempertimbangkan untuk mengerucutkan jumlah gerai. Sejak tahun 2018 lalu, mereka telah menutup dibeberapa lokasi. Menurut perwakilan Dunkin’ Donuts, perusahaan membahas tentang peningkatan penutupan gerai dan digantikan oleh unit yang lebih banyak sejak tahun lalu.

Mereka memiliki rencana untuk memperkecil ukuran toko namun tetap menjangkau beberapa lokasi. Dunkin membuka di mall, food court, kampus, bandara, hingga kantor. Mereka juga memiliki kedai ekspres untuk memenuhi kebutuhan masuyarakat kini yang dituntut serba cepat. Salah satu keuntungan menerapkan strategi ini adalah lebih menjangkau pelanggan. Di samping itu juga menawarkan pilihan kenyamanan dan makanan yang lebih beragam.

Mengapa memilih waralaba nontradisional?

Sumber: www.eater.com

Pada dasarnya waralaba non-tradisional lebih hemat biaya karena memiliki sistem berbagi, baik pada peralatan dan lokasi. Selama ada induk perusahaan, unit-unit sudah bisa menikmati beragam fasilitas, seperti ruang, peralatan dapur tempat duduk, asuransi hingga tempat parkir.

Baca Juga  Ingin Bisnis Startups Tapi Tidak Ada Modal? Begini Caranya!

Selain itu, penghematan biaya lain juga dikarenakan sistem upah tenaga kerja yang ditanggung bersama. Sementara bagi pelanggan yang terpenting kenyamanan dan keamanan haruslah berimbang. Para pemegang waralaba sebenarnya tertarik pada perhitungan investasi yang mencakup pengurangan biaya, hingga ketentuan perjanjian.

Jumlah unit yang semakin banyak dan ukuran masing-masing yang tidak terlalu besar membuatnya mudah dikontrol serta dioperasikan. Ini adalah cara cepat untuk mengembangkan bisnis waralaba. Dalam beberapa kasus, ini adalah konsep baru dan teknik merchandising yang inovatif. Permisalan lainnya yakni ketika jumlah tempat duduk terbatas, biaya perawatan juga berkurang bukan?

Apa kerugian dari sistem bisnis ini?

Sumber: shopsinsg.com

Terlepas dari keunggulannya, waralaba non-tradisional juga memiliki keterbatasan. Karena wilayah operasi yang dipersempit, maka menu yang ditawarkan juga terbatas bila dibandingkan dengan skala penuh. Sedangkan kualitas makanan juga sedikit banyak terpengaruh.

Sebagian besar warlaba non-tradisional yang beroperasi di food court dan mall menghadapi persaingan ketat. Mereka hanya mengalami permintaan yang bersifat sementara saja, seperti di musim-musim tertentu. Kurangnya ruang penyimpanan juga meningkatkan kemungkinan menu tidak sesuai dengan yang diharapkan atau cepat habis, sehingga bisa mengecewakan konsumen.

Sudut pandang konsumen

Sumber: shared.com

Pada kenyataannya, konsumen tidak terlalu memperdulikan tentan tradisional maupun non. Bagi mereka semuanya sama saja, yang terpenting menyajikan menu pas sesuai dengan eskpektasi dan pelayanan yang bagus.

Ketika unit berada di mana-mana, seringkali pelanggan mengharapkan tingkat pelayanan dan kualitas sama dengan mek lainnya. Beberapa studi kasus di lapangan menemukan hal-hal yang tidak memuaskan, seperti burger dingin, taco lembek, waktu tunggu lama atau lokasi kurang bersih turut menurunkan citra perusahaan pula.

Maka dari itu, DD juga perlu memberikan edukasi serta share tentang pengalaman kepada unit-unit-nya agar semua konsumen mendapatkan pelayana terbaik. Meskipun non-tradisional membutuhkan investasi yang jauh lebih sedikit, namun jumlah outlet yang terlalu banyak bisa menjadi masalah apabila tidak dikontrol dengan benar.

Baca Juga  7 Prinsip Meraih Kesuksesan Bisnis

Keputusan strategi

Sumber: wnep.com

Dengan semua kelebihannya, pengembangan waralaba non-tradisional membutuhkan perencanaan strategi yang cermat. Penyebaran yang terlalu dibiarkan justru akan membahayakan citra merek serta mempengaruhi pengalaman yang telah dibangun oleh konsep asli. Maka perlu keseimbangan strategi yang matang antara unit tradisional dan non.

Dunkin’ Donuts telah berhasil menerapkan sistem waralaba non-tradisional. Selain itu, mereka juga memiliki daya tarik tersendiri, sehingga pelanggan masih setia. Konsep yang dikembangkan memiliki akar yang dalam dan kuat. Mereka telah menyajikan kopi campuran sebelum Starbucks populer. Mempertahankan yang telah lama sangatlah penting, namun harus terbuka dengan perubahan baru.

Rencana terbaru Dunkin untuk meningkatkan konsep tradisional diprediksi menjanjikan. Menurut perwakilan perusahaan, kini mereka tengah fokus mengoptimalkan dan unit-unit yang tersebar terus berperan dalam perkembangan usaha. Di samping itu juga DD lebih selektif dalam mendirikan unit baru agar sesuai dengan rencana pasar.

Secara umum waralaba non-tradisional memiliki banyak keuntungan. Namun kecermatan dalam strategi perencanaan sangat penting sebelum memutuskan menambah jumlah unit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download E-Magazine Grapadinews!

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This