Berawal dari Suka Naik Ojek, Nadiem Makarim Dirikan Gojek

Sumber: www.mldspot.com

Grapadinews.co.id – Adakah kini yang masih membuat masyarakat kesulitan? Sepertinya sudah menjadi lebih baik. Terang saja, semuanya tidak luput dari teknologi yang semakin maju, sehingga muncullah beragam fasilitas berbasis digital yang mudah diakses kapan dan di manapun.

Selain berkomunikasi jarak jauh dan membaca berita secara online, kini bahkan tidak perlu lagi repot-repot harus antri menunggu angkutan umum atau bus. Apalagi harus mencari ojek dan membayar mahal untuk itu. Sungguh membuang waktu dan tenaga bukan?

Maka untuk memudahkan lahirlah transportasi online yang bisa diakses pada masing-masing smartphone. Tinggal cari alamat tujuan, dan si tukang ojek siap menghampiri serta mengantar ke tempat tujuan dengan selamat. Harganya pun tidak sampai merogoh kocek dalam. Menariknya, mereka juga menawarkan layanan antar barang, jasa titip makanan, bersih-bersih rumah, sampai servis motor.

Dari semua kemudahan tersebut, ada peran seorang pengusaha Nadiem Makarim yang jatuh bangun mendirikannya. Bagaimana kisahnya?

Mengenyam pendidikan di beberapa negara

Sumber: www.dealstreetasia.com

Nadiem Makarin lahir dan besar di Jakarta. Namun kemudian ia menempuh pendidikan SMA di Singapura dan dilanjutkan ke Brown University Jurusan International Relation di Amerika Serikat. Sebagai seorang pemuda yang tidak puas dengan satu pendidikan saja, ia pun kembali mengikuti program foreign exchange di London School of Economics.

Pria kelahiran 4 Juli 1984 ini masih ingin menimba ilmu, maka diputuskanlah Harvard Business School sebagai pendidikan selanjutnya. Ia lulus dan menyandang gelar MBA (Master Business Administration). Cukup melanglang buana menimba ilmu ke beberapa negara, akhirnya ia pun kembali ke Indonesia.

Bekerja di perusahaan orang

Sumber: sg.news.yahoo.com

Telah mengenyam pendidikan tinggi yang cukup, Nadiem memutuskan bekerja di Mckinsey&Company, sebuah perusahaan konsultan ternama di Jakarta. Di sana ia bekerja selama 3 tahun dan memutuskan untuk berhenti.

Baca Juga  Ciptakan Kesehatan Karyawan Pada Perusahaan Kecil

Perjalanan karirnya kemudian berlabuh pada Zalora Indonesia sebagai Managing Editor, dan Chief Innovation officer Kartuku. Puas memperoleh ilmu selama bekerja, Nadiem kemudian memutuskan berhenti dan memiliki ide untuk mendirikan sebuah bisnis transportasi online pada tahun 2011.

Berawal dari suka naik ojek

Sumber: www.duniaku.net

Sebagai seorang pekerja kantor yang menghabiskan waktu dengan rutinitas, Nadiem memilih ojek untuk transportasi sehari-harinya. Ia menilai bila ojek lebih aman ketimbang mobil pribadi. Apalagi situasi Jakarta yang begitu macet.

Saking gemarnya dengan transportasi tersebut, ia sampai naik ojek 5 kali dalam sehari. Dirinya mengaku bila tidak pernah mengalami kecelakaan selama beralih ke ojek, ketimbang dengan kendaraan pribadi yang membuatnya sampai kecelakaan empat kali dan dengan taksi dua kali mengalami insiden serupa.

Akrab dengan ojek, ia pun sampai punya tukang ojek langganan. Hari-harinya digunakan untuk mengobrol dengan mereka. Dari perbincangan yang sering itu ternyata para tukang ojek banyak menghabiskan waktunya untuk menunggu lama. Itupun mereka harus bergiliran agar semuanya kedapatan jatah penumpang.

Maka dari survey itulah akhirnya Nadiem memiliki gagasan untuk mempermudah para tukang ojek dan penumpang hanya dengan melalui smartphone. Jadi, calon penumpang hanya tinggal memesan, kemudian tukang ojek datang serta siap mengantar.

Cara ini juga menguntungkan bagi tukang ojek yang tidak perlu lagi menunggu di pangkalan tetapi bisa di rumah saja. Di awal bisnisnya, Nadiem hanya memiliki 10 karyawan dan 20 tukang ojek.

Gojek mulai dibangun secara serius

Sumber: katadata.co.id

Di awal terbentuk pada tahun 2009, Nadiem menggunakan sistem sederhana atau manual. Jadi saat itu penumpang masih menggunakan ponsel biasa dan mengirim pesan ke tukang ojek.  Hal tersebut dikarenakan langkanya smartphone saat itu dan hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki. Harganya saat itu juga relatif mahal.

Baca Juga  Kisah Christian Sugiono, Dari Artis Jadi Tukang Cuci Piring Sampai Pebisnis Sukses

Sampai akhirnya pada tahun 2011 ada satu investor yang turut memodali usaha tersebut. Bersama dengan kedua rekannya, Brian Cu dan Jurist Tan yang kini sebagai Co-founder, Gojek mulai mengembangkan usahanya sebagai apps kemitraan.

Sama dengan bisnis lainnya yang tidak berjalan dengan mulus. Gojek mendapatkan intimidasi dari transportasi umum konvensional sampai tukang ojek pangkalan. Menghadapi hal ini, Nadiem dan rekannya pun memikirkan cara baru agar konflik ini meredah dan pihak-pihak yang terlibat bisa tetap saling menguntungkan.

Gojek makin maju dan bersahabat dengan masyarakat

Sumber: swa.co.id

Konflik di setiap kota yang melibatkan Gojek dan transportasi konvensional sempat membuat perusahaan yang didirikan oleh Nadiem itu terancam bubar. Namun pada tahun 2015, ia dan rekan mulai membuat suatu inovasi dan pola unik melalui pengembangan aplikasinya.

Tidak hanya bisa mengantarkan penumpang dari satu tempat ke lainnya, bahkan ada pula fitur Go-Food yang melayani jasa titip makanan. Go-Clean dengan layanan bersih-bersih rumah, Go-Car layanan taksi online super murah, dan masih banyak lagi lainnya. Bahkan Gojek juga bekerja sama dengan perusahaan taksi, sehingga kini order taksi lebih mudah dengan apps Gojek.

Sang pendiri mengaku bila 85 persen pendapatan Gojek berasal dari Go-Food. Terhitung pada tahun 2015 lalu, sudah ada 15 ribu restoran di seluruh Indonesia yang menggunakan fitur ini. Hingga kini jumlahnya terus bertambah.

Kini Gojek merupakan salah satu trasnportasi online yang memudahkan masyarakat. Terlebih dengan beragam fiturnya membuat aktivitas sehari-hari jadi lebih mudah, efektif dan hemat biaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download E-Magazine Grapadinews!

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This