Begini Cara Orang Korea Meningkatkan Kecerdasan Sosial Anak

sumber: pixabay

Sudah pernah mendengar tentang Nunchi? Nunchi adalah seni memaknai hidup agar lebih bahagia ala orang Korea. Secara harfiah artinya mengukur dengan mata. Nunchi merupakan cara untuk merasakan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain, kemudian merespon perasaan itu dengan cepat. Berbeda dengan empati yang merupakan kemampuan untuk menakar perasaan orang lain secara individu, Nunchiakan mengarahkan pelakunya untuk membaca atmosfer orang-orang di dalam suatu tempat atau ruangan secara kolektif. Pengamatan ini dilakukan secara diam-diam, dengan menggunakan mata, telinga, dan pikiran yang tenang. 

Di Korea, Nunchi diajarkan sejak balita, tepatnya sejak anak berusia tiga tahun. Di negeri asal Blackpink dan BTS ini, seorang anak sudah dilatih untuk merasakan dan memikirkan atmosfer dan suasana orang di sekitarnya sejak usia dini. Dengan demikian, mereka akan memiliki kemampuan dan kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial atau interpersonal adalah salah satu kunci agar anak sukses dan dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya. Nunchi juga bisa membantu anak dalam usaha mengurangi kecemasan sosialnya.

Seorang anak merasa kecewa karena setelah mengantri lama untuk membeli es krim, ternyata ketika hampir gilirannya, es krimnya habis. Orang tua yang mengajarkan Nunchi pada si anak akan menenangkannya dan berkata, “Coba Adek lihat, ada juga teman-teman Adek yang nggak kebagian es krim. Kira-kira gimana ya perasaan mereka? Mungkin mereka sedih dan kecewa juga, ya. Coba deh lihat.”

Dengan begitu anak diajak untuk memahami bahwa, oke dia kecewa dan sedih karena tidak kebagian es krim, tapi dia tidak sendirian. Ada orang lain yang mengalaminya. Anak akan diajak untuk memahami pikiran mereka, sekaligus menenangkan pikirannya. Jadi pelan-pelan anak akan bisa menerima bahwa walaupun dia kecewa namun dia tidak perlu berlama-lama di dalam rasa kecewanya.

Mengendalikan Egosentris Anak

sumber: pixabay

Anak berusia satu hingga enam tahun secara fitrah masih memiliki egosentris yang kuat. Di beberapa keluarga hal ini dimaklumi karena mereka masih kecil. Namun tidak ada pemakluman yang tidak terbatas, seperti halnya Maria Montessori berkata, “Anak-anak membutuhkan kebebasan yang memiliki batasan”. Mereka harus tahu bahwa dunia tidak berputar di sekitar mereka. Anak juga harus mengenal batasan berusaha memahami orang lain tanpa mencederai fitrah egosentrisnya. 

Seorang anak yang diajarkan terlalu banyak empati akan mudah labil dalam perasaannya, namun Nunchi akan membuatnya mawas diri sambil tetap memahami perasaan orang lain. Memang tidak mudah mengajarkan Nunchi (karena itulah di negara asalnya Nunchi diajarkan sejak usia dini). Kelak, kemampuan ini dipercaya akan membuat anak lebih mudah bergaul, lebih mampu membangun hubungan dan relasi, serta lebih sukses dan bahagia di kemudian hari. 

Menurut Euny Hong, penulis buku The Power of Nunchi, beberapa orang terlahir dengan kemampuan ini, namun sebagian besar lainnya harus mempelajarinya dengan tekun bahkan selama bertahun-tahun. Jadi tidak ada salahnya untuk mulai memperkenalkan Nunchi pada anak dan keluarga kita sejak sekarang. karena Nunchi tidak hanya diajrkan kepada anak. orang dewasa juga mempelajarinya.

Baca Juga  Kreativitas Menghasilkan Jagung Pelangi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download E-Magazine Grapadinews!

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our team.

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This