Asisten Digital Dibuat Dengan Nama Perempuan, Isu Stereotip Jadi Perbincangan


0
Spread the love
Sumber: forbes.com

Grapadinews.co.id – Teknologi membawa manusia pada perdaban baru. Melalui setiap pembaharuan setiap harinya, membuatnya terus berkembang dari waktu ke waktu menciptakan suatu karya yang melibatkan kecerdasan secara digital. Dari sanalah lantas kehidupan masyarakat modern lebih praktis dan hemat energi.

Terobosan besar-besaran di bidang digital juga dapat dilihat dari terciptanya robot-robot yang bisa membantu aktivitas sehari-hari. Mereka dibuat untuk meringankan beban manusia dan menghemat waktu yang digunakan untuk pekerjaan rumah.

Selain para robot, pernahkah Anda mendengar tentang “Meet Amy, Debbie, Inga, Mia, Erica, Eva dan Cora” ? Mereka bukanlah anggota girlband tetapi nama-nama yang diberikan kepada asisten digital perusahaan bank.

Ya, terobosan terbaru ini dinamakan dengan chatbots. Menggunakan asisten digital dapat memotong biaya bagi perusahaan, utamanya bagi mereka yang telah memiliki basis nasabah luas dan pengeluaran yang terhitung besar, seperti asuransi, telepon dan masih banyak lagi lainnya.

Chatbots menimbulkan kritik

Sumber: www.fiercepharma.com

Menurut Juniper Research, menggantikan peran manusia dengan chatbots membantu menyelamatkan pengeluaran perusahaan hingga US$7,3 miliar hingga tahun 2023 nanti. Gencar digunakan oleh sejumlah perusahaan perbankan, chatbots dengan nama-nama perempuan itu menimbulkan pertanyaan serta kritik.

Masyarakat beranggapan bahwa hal tersebut dapat melanggengkan stereotip gender, khususnya tentang seputar gagasan peran perempuan sebagai asisten. Kritik tersebut telah diarahkan kepada asisten digital Amazon, Alexa dan Siri dari Apple.

Perusahaan besar di dunia mulai gunakan chatbots

Sumber: forbes.com

Dilaporkan dari Forbes bila hingga kini sudah ada 10 bank terbesar di Eropa yang berhasil menyelamatkan asetnya berkat penggunaan chatbot di situs web serta aplikasi. HSBC memiliki chatbot bernama Amy. Sementara Debbie, milik Deutsche Bank membantu dalam perdagangan pasar. Kemudian ING membuat Inga untuk Netherlands, ialah chatbot yang dapat merespon secara empati tentang masalah yang dihadapi oleh nasabah, misalnya seperti kehilangan kartu.

Ada pula Marie yang membantu pelanggan ritel di Facebook Messenger dengan ramah. Dikabarkan pula bila Tim Daniels, manajer program dari ING ingin memiliki chatbot pria bernama Bill yang nantinya bertugas melayani pelanggan korporat.

Tidak mau ketinggalan, perusahaan pinjaman seperti Santander, Barclays dan Societe Generale juga memiliki asisten chatbot yang tidak disebutkan namanya. Credit Agricole juga punya internal chatbot pria bernama Hector.

Obrolan seputar chatbots menyebar hingga ke industri lainnya. Baru-baru ini Bank of America juga merilis asisten digitalnya bernama Erica. Sementara itu, Mia juga akan diperkenalkan oleh Ubank Australia dan perusahaan mengatakan bahwa chatbot kali ini diprogram memiliki rasa empatik, bahagia dan sedikit suka bercanda.

Chatbots dan isu gender

Sumber: http: letzgro.net

IPSoft, sebuah perusahaan perangkat lunak di New York yang memproduksi chatbot untuk bank-bank seperti SEB Swedia dan juga jaringan seluler raksasa, Vodafone. Menariknya, salah satu asisten digital yang mereka produksi dibuat secara khusus dengan kemampuan menghadap pada pelanggan langsung dan diberi nama Amelia.

CEO IPSoft, Chetan Dube membantah bahwa nama chatbot mengabadikan stereotip. Ia mengatakan bahwa hal tersebut bahkan melambangkan sebuah kepemimpinan dari wanita. Sedangkan nama ‘Amelia’ diambil dari seorang penerbang pada tahun 1930-an, Amelia Earhart.

Perusahaan Vodafone mengungkapkan bahwa chatbot mendukung upaya perusahaan untuk berkembang. Hal tersebut dikarenakan beberapa staf bisa digantikan oleh perangkat lunak. Akan tetapi pergantian peran ini memungkinkan ketidak nyamanan dan konsekuensi yang lebih mengkhawatirkan. Menurut pakar industri, salah satu risiko terbesar yakni memperkuat stereotip tertentu.

John Taylor, CEO Action.ai, sebuah startup Inggris yang juga membuat perangkat lunak chatbots untuk bank dari perusahaan mengatakan bahwa isu gender dalam desain chatbot adalah masalah yang semakin serius, sebab menyangkut tugas seorang asisten dan orang menganggap profesi itu terlalu kasar.

Vitor Shereiber, seorang spesialis bahasa di German Language-Learning app mengatakan bahwa pengujian awal pada asisten digital berguna untuk menetapkan jenis kelamin. Perusahaan juga perlu mengkaji ulang agar nantinya pelanggan juga merasa nyaman. Di satu sisi, kehadiran chatbot perempuan juga dinilai tidak realistis, seperti penampilan profesional dengan tubuh sempurna sehingga memunculkan stereotip tentang bagaimana seharusnya fisik seorang wanita.

Salah satu tantangan bagi perusahaan kini adalah membuat customer service otomatis tanpa menimbulkan antrian panjang. Maka PwC baru-baru ini menjelaskan bahwa perusahaan perangkat lunak sedang berupaya meningkatkan kualitas produk agar pelanggan merasa puas.

Menanggapi isu stereotip, Taylor menyarankan agar produsen asisten digital harus mencoba membuat lebih banyak chatbot dengan nama dan suara pria. Pada konferensi teknologi di London, Seth Juarez seorang ahli di bidang artifial-intelligence yang berbasis di Redmond, Washington mengatakan bahwa dirinya membuat chatbot pria karena rasanya sangat tidak bermoral bila memposisikannya sebagai wanita.

Mengenai stereotip perempuan pada asisten digital tersebut menjadikan pelajaran untuk perusahaan perangkat lunak. Sebab kini masyarakat begitu sensitif dengan isu-isu feminisme, mereka juga beranggapan bahwa wanita bukanlah ‘seorang pesuruh’. Maka dari itu, kini beberapa perusahaan sedang mengembangkan chatbot pria untuk menyeimbangkannya.

 


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
Indahhikma

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals