8 Sifat Tak Terpuji di Kantor Buat Lingkungan Kerja Kurang Kondusif


0
Spread the love
Sumber: www.goodcall.com

Grapadinews.co.id – Pernahkah Anda merasa tidak nyaman dengan lingkungan kerja? Ya, tentu saja beberapa orang pernah merasakan demikian. Mengingat dalam suatu perusahan terdiri atas banyak karyawan, mereka memiliki latar belakang yang berbeda serta karakter yang tidak sama pula. Namun saat berada dalam lingkup kerja, sudah sepatutnya untuk menyingkirkan ego masing-masing demi menciptakan impian bersama.

Rasa tidak nyaman dengan lingkungan kerja biasanya dipicu oleh sifat serta karakter rekan. Sementara itu, tidak selamanya seseorang dengan karakter A cocok dengan B, begitu sebaliknya. Justru A lebih cocok dengan C, begitu pula sebaliknya. Hal inilah kemudian yang menjadikan kantor sebagai tempat yang menampung keaneka ragaman.

Kendati demikian, ketidak nyamanan itu bisa berdampak tidak baik, seperti misalnya mundur dari pekerjaan, lingkungan yang tidak lagi kondusif, kinerja menurun hingga stres. Dalam sebuah artikel yang ditayangkan oleh Forbes, para peneliti pernah mengamati setiap karakter karyawan dalam sebuah kantor. Ditemukan bila ada beberapa orang yang membawa toxic behavior atau perilaku tidak baik dapat mempengaruhi seluruhnya.

Toxic behavior tumbuh dan menjadi racun dalam suatu lingkungan kerja. Akan tetapi beberapa beranggapan bahwa perilaku ini tidak selalu buruk untuk bisnis, namun berdampak tidak baik pada orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Lalu seperti apa sih yang dimaksud dengan toxic behaviour? Sifat apa saja yang masuk ke dalamnya? Simak ulasannya berikut ini!

Psikopat

Sumber: monster.com

Dalam film, sifat seorang psikopat digambarkan sadis. Mereka suka dendam hingga membunuh tanpa alasan yang jelas. Bahkan tidak segan menyakiti siapapun yang dianggapnya telah mengganggu. Kendati demikian mereka seperti tidak merasa bersalah.

Apa yang digambarkan dalam film tidak sepenuhnya salah. Namun psikopat di tempat kerja tidak ditandai dengan kekerasan atau kriminalitas. Mereka disebut juga dengan psikopat korporat yang diperkirakan hanya ada 1% dalam suatu perusahaan.

Sifat-sifat umum dari si psikopat korporat ini yaitu arogansi, kurang tertarik akan suatu hal yang dianggapnya tidak berkualitas, dan kurangnya rasa penyesalan dalam diri. Mereka cenderung mengambil risiko besar, lantas berpikir bahwa aturan saja tidak akan berlaku. Jadilah, pemilik karakter ini sering kali mengabaikan yang telah menjadi aturan, kemudian melakukan apa pun sesuka hati karena menganggap apa yang dilakukannya selalu benar.

Sebab sifatnya yang selalu semaunya itu, mereka pandai memanipulasi orang-orang di sekitar. Kepintarannya dalam mengatur strategi terkadang membuat rekan tidak sadar. Dari semua yang telah dilakukan, mereka cenderung merasa tidak bersalah atas perilakunya.

Narsistik

Sumber: www.health.com

Apa yang Anda pikirkan saat melihat seseorang yang suka bercermin lantas memuji dirinya sendiri? Sifat ini memang tidak merugikan siapapun, sebab setiap orang berhak akan menghargai dirinya sendiri. Tetapi jika berlebihan justru akan mengganggu orang-orang di sekitar.

Sifat ini juga bisa ditemui di lingkungan kerja. Individu narsistik biasanya akan memprioritaskan dirinya sendiri dan mencari pujian atas apa yang telah dilakukannya. Mereka juga sering sombong, mementingkan diri sendiri dan memiliki rasa superioritas yang tidak pada tempatnya.

Karakter narsisis bisa sangat dominan dan mengendalikan seluruh kerja. Meski terkadang tidak ikut andil, namun mereka mau jika semua ide, gagasan, hingga solusi atas masalah berasal darinya. Tujuannya hanya satu yakni mendapatkan pujian dari atasan atas kerja kerasnya. Lebih-lebih juga sering memiliki ide yang terlalu bermuluk-muluk tentang apa yang mereka inginkan, citakan. Sebagian besar memang bertujuan untuk dirinya sendiri.

Pada umumnya, sifat ini tampak begitu ambisius agar dipuji. Namun pada praktiknya, kebanyakan tidak sesuai dengan apa yang dikatakan. Kendati demikian tetap seolah-olah dirinya paling hebat.

Machiavellian

Sumber: madamenoire.com

Karakter ini mungkin terdengar asing ditelinga. Namun Machiavellian hampir mirip dengan psikopat. Jika psikopat lebih menggunakan cara kasar, namun sifat ini justru dengan langkah halus namun penuh dengan tipu muslihat.

Mereka yang cenderung terlihat kalem serta baik-baik saja, namun dalam hatinya memiliki rencana-rencana licik dan sering kejam. Seorang machiavellian percaya bahwa tujuan mereka selalu membenarkan cara, tetapi tidak peduli akan moralitas pada umumnya. Di balik sikap yang biasa saja, tersimpan suatu tujuan, sehingga mereka tidak segan untuk berbohong dan menipu.

Machiavellian memang lebih memiliki hati nurani bila dibandingkan dengan psikopat. Akan tetapi, tujuan untuk dirinya sendiri kerap kali turut memanipulasi orang-orang di sekitar. Bila perlu sekaligus mengeksploitasi untuk mencapai tujuan kapan dan di manapun.

Pemegang kontrol

Sumber: www.talentsmart.com

Pemimpin perusahaan atau departemen merupakan pegemang kontrol atas kinerja karyawan atau selama proses produksi/proyek berlangsung. Mereka berhak menentukan mana yang terbaik dan tidak, namun tetap harus melalui persetujuan bersama. Karakter ini baik bila dimiliki oleh seorang pemimpin atau karyawan yang memang dipercaya. Namun bagaimana jadinya bila juga dimiliki oleh pegawai biasa?

Pada beberapa kasus, rekan yang berlagak pemegang kontrol ini seringkali menjadi momok dari perpecahan antara karyawan dan ketidak nyamanan lingkungan kerja. Ialah yang selalu seolah-olah harus memegang kendali ata semua proyek yang dijalankan.

Sah-sah saja memiliki taktik dan ide. Akan tetapi jika terlalu berlebihan justru akan merusak segalanya. Dalam sebuah tim, si pemegang kontrol ini seringkali menunjukkan bahwa dirinya yang mengendalikan ide, proyek serta rencana. Mereka juga bisa menahan anggota tim lainnya atau memaksa harus melakukan sesuatu sesuai dengan perintahnya.

Sikap ini cenderung merugikan anggota lain yang akan merasa tidak nyaman. Lebih-lebih perintah atasan juga sering diabaikan karena satu orang yang merasa dirinya adalah pengendali. Tugas bisa terbengkalai dan rencana bisa jadi tidak berjalan dengan semestinya.

Membatasi kreativitas

Sumber: news.harvard.edu

Ide membutuhkan kreativitas. Tidak hanya pikiran logis serta berdasarkan survei, tetapi juga memain-mainkan imajinasi. Selain itu, gagasan juga harus melibatkan seluruh departemen. Pemimpin tidak bisa langsung memutusakn, sementara lainnya memiliki ide yang lebih jenius. Semakin banyak gagasan, maka akan semakin mudah dalam memilih mana yang terbaik.

Akan tetapi ada pula pemimpin atau rekan kerja yang justru mencoba membatasi kreativitas. Pemilik karakter ini biasanya datang di waktu yang tepat untuk membungkan siapa saja yang nantinya akan mengusulkan gagasan baru. Tujuannya yakni agar ide dari dirinya saja yang bisa direkomendasikan.

Mereka juga kerap kali mematikan ide serta menghentikan komunikasi serta negosiasi. Sehingga mau tidak mau orang di sekitar akan diam dan tidak tahu.

Favoritisme

Sumber: monster.com

Favoritisme biasanya dimiliki oleh para pemimpin dalam suatu perusahaan. Mereka cenderung memiliki sifat ambisius untuk mencapai yang diinginkan. Boleh saja bersikap demikian, akan tetapi harus didasari kepentingan bersama, bukan pribadi.

Mereka yang menunjukkan sifat demikian juga seingkali memiliki pandangan tersendiri akan suatu hal. Tujuannya agar mendapatkan posisi terbaik dan terus melenggangkan apa yang diimpikan. Toxic behavior ini suka dikelilingi oleh orang-orang yang mendukung visinya, sehingga kerap kali menunjukkan pilih kasih hingga mempromosikan siapa saja secara tidak adil.

Dalam kasus terburuk, pemimpin dengan sikap ini seringkali menggertak karyawan dan mendorong mereka untuk mendukungnya. Tidak hanya dimiliki oleh leader, namun karyawan biasa juga ada yang memiliki sifat ini.

Karyawan favoritisme biasanya memiliki grup tersendiri, mereka berkumpul atas visi yang sama. Lantas mengisolasi dari karyawan lainnya untuk masuk dan menunjukkan bahwa golongan merekalah yang patut dihormati dan superior.

Pembohong dan pemanipulasi

Sumber: www.businessinsider.com

Dalam banyak kasus, entah dalam perusahaan atau keseharian sifat pembohong ini sering dijumpai. Ialah mereka yang mengatakan tidak sesuai fakta demi menutupi tujuannya. Si pembohong kerap kali memberikan berita-berita palsu dan berusaha meyakinkan orang-orang di sekitar.

Pembohong dan pemanipulasi juga hidup bebas di lingkungan kantor. Mereka kerap kali menggunakan kebohongan dan memanipulasi untuk memandu situasi yang menguntungkan demi tujuan yang diinginkan. Bahkan kerap kali melanggar aturan jika itu dinilai baik dan sesuai dengan keinginan sendiri.

Seseorang dengan sifat pembohong dan pemanipulasi pandai menutupi siapa dirinya. Mereka memiliki pesona, mampu menghidupkan karisma dan bergelimang pujian. Akan tetapi di balik itu semua mereka tega menjatuhkan rekan sendiri demi kepentingan pribadi.

Tidak menyukai kritik serta saran

Sumber: www.verywellmind.com

Tidak hanya pada perusahaan, individu juga membutuhkan kritik serta saran untuk terus menjadi pribadi yang baik. Memang tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, maka dari itulah dibutuhkan suatu masukan dari orang lain untuk memperbaiki semuanya. Hanya orang lainlah yang bisa melihat serta menilai siapa diri kita, maka kritik serta saran yang membangun ada baiknya diterima.

Akan tetapi ada pula orang yang justru tidak suka dikritik, sekalipun mereka telah berbuat kekeliruan. Mereka bahkan tidak tertarik dengan kritik konstruktif apapun. Secara umum pribadinya sulit menerima penilaian dari orang lain.

Padahal ketika bekerja tentulah membutuhkan masukan serta saran dari rekan. Tujuannya agar tugas yang diberikan benar, berjalan dengan lancar dari mendukung kesuksesan perusahaan. Tetapi itu semua tidak berlaku bagi si toxic behavior satu ini. Sebab mereka lebih mementingkan pandangan sendiri.

Konsekuensi bekerja dalam lingkungan yang penuh dengan toxic behavior dapat merusak kinerja, membuat stres, hingga terjebak dalam situasi yang membingungkan. Hal tersebut juga dapat menyebabkan konflik dan ketidakbahagiaan di tempat kerja.

Jika Anda menemukan beberapa karakter di atas di lingkungan kerja, ada baiknya untuk menarik diri. Bertemanlah dengan siapapun namun tidak perlu mengikuti yang justru menjerumuskan pada hal-hal yang tidak baik. Ada baiknya pula untuk mendengarkan nasehat serta kritikan dari rekan kerja agar kita tahu siapa diri kita, lantas memperbaikinya dengan segera. Selamat bekerja!


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
Indahhikma

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals